Selama ini diyakini bahwa timbangan mithqal adalah dari Dinasti Umayyah yang di dasarkan pada hipotesis 1 dinar adalah 4.25 gram yang tersimpan di museum Inggris. Hipotesis ini dijadikan sandaran dari fikih zakat kontemporer yang banyak menjadi rujukan dari Perbankan Islam ataupun catatan kaki berbagai buku Ekonomi Syariah dan disadur oleh para penggiat dinar dan dirham di Malaysia, Indonesia dan beberapa negara lain. Hipotesis ini juga merujuk  kepada Dr. Yusuf Qardhawi ataupun Shaykh Utsaimin, dimana mereka menyamakan dinar dan dirham dengan uang kertas, dikatakan dengan alasan kehati-hatian maka diambil timbangan mithqal terkecil (dalam catatan lain agar dapat mengakomodir fikih zakat profesi). Mitsqal sendiri adalah timbangan untuk emas murni yang sudah ada sejak masa sebelum Islam, kemudian ditetapkan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Sebagai tambahan catatan dari penelitian dan studi literatur koin masa Rasululllah shalallahu alaihi wassalam ataupun Sahabat dan Khulafaur Rasyidin ditemukan berat rata-rata berat mithqal ada dalam rentang 4.46 – 4.5 gram dan berat dirham dalam rentang 3.01 – 3.2 gram. Diketahui juga berbagai jenis berat dirham dalam catatan perdagangan Kekhalifahan Turki abad 13.

atalog gambar REFORM COINS OF ABDUL MALIK BIN MARWANNo.144 (atas) Dinar = 4.20 gram (20mm), 77H-132H (Walker 1956)No. 145 (bawah) Dirham = 2.74 gram (26mm), 79H (Walker 1956, pp 104-201)

Hipotesa bahwa 1 mithqal adalah 4.25 gram di atas ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan koin yang ditemukan dilapangan, perbandingan 7/10 (wazan sab’ah) dari koin-koin dinar dan dirham Umayyad (Abdul Malik Bin Marwan) dapat di lihat dalam buku tersebut, Arab Byzantine Coins.

Ini diperkuat juga dengan referensi berdasarkan bukti arkeologis (J. Walker) koin Dinasti Umayyah dari tahun 77H-132H di dapat 46 koin dinar dengan berat antara 4.26 gram dan berat tertinggi adalah 4.32 gram, ada 5 koin dinar dengan berat 4.24 gram tahun 83H, 104H, 105H, 107H, 109H, dan ada 4 koin dengan berat 4.25 gram tahun 95H, 106H, 113H, 116H. Masih berdasarkan referensi bukti arkeologis (J. Walker) koin Dirham Dinasti Umayyah di dapat berat terendah Dirham adalah 2.58 gram (Ramhurmuz/96H) dan berat tertinggi 2.91 gram (Sabur 83H)

Bates, Michael L. “The Coinage of Syria Under the Umayyads, 692-750 A.D.,” in The Fourth International Conference On The History Of Bilâd al-Shâm During the Umayyad Period: Proceedings of the Third Symposium, 2-7 RabîA I 1408 A.H./24-29 October 1987, English Section, Vol. II ed. M. Adnan Bakhit and Robert Schick (Amman, 1989), 195-228. (Sumber: Buku Catatan, Petunjuk Dinar dan Dirham 2015, Sidi Abdullah Firman)

Bukti arkeologis itu juga menunjukkan reformasi keuangan yang dilakukan Abdul Malik ibn Marwan setelah menaklukkan Haramain yang dipimpin oleh khalifah yang sah (setidaknya untuk beberapa klaim ahlussunnah), Abdullah ibn Zubayr.

Berbeda dengan masa kepemimpinan awal Damaskus, Abdul Malik ibn Marwan mencetak sesuai timbangan Mush’ab bin Zubayr (gubernur Mesir), seperti pada katalog dengan berat 4.461 gram. Setelah penaklukan dan gempuran terhadap Makkah (hingga dikatakan Ka’bah hancur berkeping-keping dan kemudian dibangun kembali oleh penggempur tersebut) memang tampaknya itulah dinar seperti yang ada pada katalog, karena semua dinar yang lama (lebih berat) dilebur (memang sudah seharusnya begitu, namanya juga islahun nuqud, atau financial reformation)

Dinar dan dirham adalah dua jenis mata uang (sunnah) yang berkaitan satu sama lain. Jika dirham dibuat dari perak murni maka sedemikian pula dinar adalah dibuat dari emas murni.

Dalam sejarah manusia mencoba mengurangi, merusak, mengambil keuntungan, dari dirham maupun dinar, yaitu dengan memberikan campuran logam lain kedalam emas atau perak murni sehingga mempengaruhi nilai intrinsik bawaannya. Kondisi ini sering disebut debasement. Perubahan nilai intrinsik ini mempengaruhi tentu saja nilai dari uang itu sendiri terhadap komoditas, barang dan jasa.

Jadi penjelasan katalog itu sudah benar bahwa dinar adalah 4.26 – 4.32 gram. Hanya saja menurut penelitian modern beratnya adalah 66 biji gandum (silakan lihat di Buku Fikih Zakat Yusuf Qardawi) dan bukan 72 bulir gandum, seperti apa yang dikatakan Ibn Khaldun, sejak munculnya Islam hingga masa sahabat dan tabi’in, bahwa 10 dirham adalah 7 mitsqal emas, dan uqiyahnya sama dengan 40 dirham. Dan timbangan mitsqal emas adalah 72 biji gandum pertengahan, maka dirham menjadi 7/10 daripadanya yakni 55 biji. Semua ukuran ini ditetapkan dengan ijma‘.

Di luar fikih zakat kontemporer dan tradisional tersebut ada orang yang mengklaim sebagai ˜otoritas berpendapat (berdalih) bahwa tidak ada lagi ijtihad untuk mitsqal selain 4.25 gram, (perlu diketahui ˜otoritas’ ini bukanlah yang menetapkan standar tersebut, itu hanya sebuah klaim) dan dinar tidak murni yang mereka edarkan adalah cacat berat dan kadar untuk zakat maal emas.

Untuk 1 dinar 4.25 gram (91.6) tentu hal ini menyelisihi dan tidak mengikuti 4 madzhab yang mutabar, pendapat ini sangat lemah karena tidak berdasarkan kepada nash-nash syar’i. Karena persoalan timbul dan rumit adalah saat ini ada dinar tidak murni seperti Dinar 4.25 gram (91.7) langsung dipukul rata dan dikeluarkan zakatnya setelah 20 dinar dari mithqal tersebut. Hal ini menabrak banyak kaidah dan haditsnya.

Bagi yang mengatakan 1 mithqal adalah 66 butir gandum maka temukanlah berapa timbangan 66 butir gandum dan bagi yang mengatakan 1 mithqal 72 butir gandum sudah jelas ditetapkan dalam gram ataupun troy ounce, sedangkan merujuk kepada sumber salaf ataupun kontemporer dalam bab Zakat, semuanya diukur kepada emas dan perak murni (yang paling murni), disebut dzahab khalis dan fidhah.