Pasar adalah sebuah rangkaian penting dalam bangunan perniagaan Islam, karena pasar adalah jantung kehidupan suatu kota, tentu yang kami maksud disini adalah pasar yang dijalankan mengikuti aturan Islam, sedangkan pasar semacam ini telah hilang karena dibiarkannya riba. Pasar adalah tempat terjadinya jual beli, bertemunya antara pedagang dan pembeli dan sudah seharusnya hukum halal dan haram diterapkan di pasar kaum Muslim, ini suatu hal yang penting ketika kebanyakan orang sudah tidak perduli lagi atas rejekinya apakah dari sumber halal atau haram.

Sama seperti yang dibutuhkan kaum Muslim di masa lalu adalah memiliki tempat-tempat umum mereka untuk beribadah (spiritual) kepada Allah, yaitu masjid, jadi, umat Muslim juga perlu memiliki tempat umum mereka untuk transaksi komersial di antara mereka sendiri, mereka perlu memiliki pasar mereka sendiri, dan dengan perluasan ekonomi mereka sendiri maka umat Islam membutuhkan hal yang sama hari ini, tidak ada yang berubah. Hal ini pada gilirannya memerlukan pembentukan pasar dan perniagaan Islam yang otonom di mana praktek riba, peniumbunana, monopoli dan segala bentuk kecurangan semuanya dilarang, sedangkan kebaikan dan keadilan harus diberlakukan, dengan demikian kewajiban untuk memerintahkan yang hak dan melarang yang salah dapat terpenuhi.

Oleh karena itu, sama seperti masjid di lihat sebagai bentuk ibadah bersama umat Islam, maka pasar dapat di lihat sebagai transaksi bersama umat Islam. Sama seperti masjid terbuka untuk diakses oleh semua orang tanpa batasan, sehingga pasar terbuka untuk di akses oleh semua orang tanpa pembatasan.

Pada dasarnya pasar adalah tempat untuk siapa pun, terutama untuk fakir dan miskin dapat pergi ke pasar yang terbuka, umum atau komunitas kapan saja, bebas sewa, tanpa biaya masuk, pajak dan cukai, dengan melakukan sedikit kerja atau sedikit perdagangan, maka dengan demikian mereka dapat keluar dari kemelaratan dan mencukupi dirinya sendiri dan tanggungannya, dan jika ia memiliki kelebihan keuntungan, dapat saja dia memberikan bantuan modal kepada teman, saudara atau komunitas yang memerlukan,sebagai bentuk persaudaraan dan kebaikan umum. Ini sebuah model kesejahteraan pasar (yang dikemas dalam institusi wakaf atau sumbangan amal), di mana aspek pasar dan kesejahteraan ekonomi jadi terintegrasi secara sempurna sebagai satu kesatuan, ibadah dan muamalah tidak terpisah dalam aturan Islam, sebuah perniagaan organik.

Jadi, masjid dan pasar adalah tiang kembar umat Islam, karena kita tidak bisa membiarkan diri kita terpecah belah, mempraktekkan satu aturan di masjid (dalam ibadah) tetapi satu aturan yang benar-benar berlawanan di pasar (di muamalah), karena kita harus menegakan takwa dimanapun kita berada, tidak hanya di masjid, ittaqullaha haythu kuntum. Oleh karena itu kita dapat menemukan para ulama klasik Islam menulis banyak karya tentang ahkam al-masajid (aturan-aturan di masjid) serta ahkam al-suq (aturan dipasar)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memberikan petunjuk bagaimana menjadi pedagang di Pasar Halal sebagaimana yang disampaikan:

Rasulullah bersabda, “Pedagang yang jujur amanatnya kelak di hari kiamat bersama-sama para nabi, shiddiqin dan para syuhada”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ bahwa Nabi r pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?”. Beliau bersabda, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR. Al-Bazzar, Hadits shahih menurut Hakim)

Kehadiran Pasar yang dimaksud kami beri sebut dengan nama Pasar halal, yang sedang berjalan di beberapa kota  di Indonesia atau dimanapun tentu saja belum cukup, tapi harus juga ada pembinaan dan edukasi para pedagang dan produsen agar bisa memahami hukum riba dan fikih dagang atau jual beli.

Pasar halal secara umum bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin berdagang di dalamnya tanpa pungutan uang sewa dan pajak serta tidak ada klaim tempat. Syarat pertama bisa masuk ke pasar halal hanya satu yaitu paham hukum riba dan fikih dagang serta siap dikeluarkan dari pasar oleh muhtasib (pengawas pasar) kalau melakukan transaksi yang melanggar syar’i.

Islam memberikan semangat kehidupan dengan penciptaan perniagaan terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan perdagangan terbuka, artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh penghidupan yang layak melalui amalan muamalahnya yang sesuai syar’i di pasar halal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kembalikan pasar halal adalah sebagai berikut

  1. Pedagang diwajibkan memahami hukum riba dan fikih dagang
  2. Pasar serupa dengan masjid dalam aturan dan pelaksanaan.
  3. Pasar adalah sedekah bagi kaum muslimin, dibangun di atas tanah wakaf
  4. Tidak ada penarikan uang sewa
  5. Tidak ada penarikan pajak
  6. Tidak ada pesan dan klaim tempat
  7. Muhtasib
  8. Barang yang dijual harus halal

Bagi umat Islam yang bekerja pada sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, produsen barang dan jasa, silahkan bergabung dengan jaringan Pasar Halal dan Perniagaan, silahkan kontak kabarpasarhalal@gmail.com

(Buku Catatan dan Petunjuk Dinar dan Dirham 2017, Sidi Abdullah, 1999-2016. An Economic, and Social History of The Ottoman Empire, Kitab al-Naẓar wa al- Aḥkām fī Jamiʿ Aḥwal al-Suq (Tunis, 1975), Tuhfat al- Rakiʿ wa al-Sajid bi Aḥkam al-Masajid )