Imam Al Ghazali hidup dari tahun 450-505 H/ 1058-1111M, pada periode ke empat masa kekuasaan dinasti bani Saljuk dalam pemerintahan Abbasiyah. Imam Al Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir dunia Islam mencakup berbagai cabang ilmu fikih, tassawuf dan ushul. Beliau menyusun banyak buku dan membahas berbagai disiplin ilmu dan dalam hal ini beliau juga memberikan perhatian tentang dinar dan dirham secara mendasar, yaitu fungsi dinar dan dirham. Semoga tulisan yang kami ambil dari pemikiran Imam Al Ghazali ini  dapat menjadi tambahan ilmu, memurnikan hati dan meluruskan niat dalam mengamalkan kembali dinar dan dirham.

Imam Al Ghazali sangat memahami berbagai macam fungsi uang, ia menekankan bahwa uang tidak diinginkan karena uang itu sendiri. Uang baru akan memiliki nilai jika digunakan dalam suatu pertukaran. Tujuan satu-satunya dari emas dan perak adalah untuk dipergunakan sebagai uang, tulisan ini melengkapi pembahasan beliau  sebelumnya mengenai tujuan penciptaan emas dan perak  yang dapat di baca dalam  Rencana Allah Dalam Penciptaan Emas Dan Perak.

Al Ghazali mengutuk mereka yang menimbun kepingan-kepingan dinar dan dirham atau mengubahnya kebentuk lain: “Jika seseorang menimbun dinar dan dirham, ia berdosa. Dinar dan dirham tidak memiliki manfaat langsung pada dirinya. Dinar dan dirham diciptakan agar beredar dari tangan ke tangan, untuk mengatur dan memfasilitasi pertukaran, sebagai simbol untuk mengetahui nilai dan kelas barang. Barang siapa yang menggunakan emas dan perak sebagai barang-barang rumah tangga, wadah atau benjana atau semacamnya, maka sesungguhnya ia telah berbuat yang bertentangan dengan tujuan penciptaan emas dan perak dan hal itu dilarang oleh Allah. Dan berarti ia telah berbuat dosa dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’alla. Keadaan orang tersebut bahkan lebih buruk daripada keadaan orang yang menimbunnya atau menyimpannya. Karena ada logam  dan material lainnya seperti besi, tembaga, atau tanah liat yang dapat digunakan untuk membuat peralatan. Akan tetapi  tanah liat tidak dapat digunakan untuk mengganti fungsi yang jalankan oleh dinar dan dirham”.

Untuk tujuan sebagai alat tukar inilah emas dan perak diciptakan oleh Allah, bukan untuk dijadikan wadah dan bejana. Oleh karen itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang meminum dari bejana emas dan perak, maka seolah-olah ia menuangkan sebongkah api neraka ke dalam perutnya”

Menurut sejarah emas dan perak merupakan logam terpenting yang digunakan sebagai uang terhadap berbagai keperluan perdagangan dan transaksi komoditas dan jasa. Pemikiran Al Ghazali diperkuat juga oleh Abu Ubaid.

Dikatakan oleh Abu Ubaid bahwa dinar dan dirham mempunyai fungsi sebagai standar nilai pertukaran (standard of exchange value) dan media pertukaran (medium of exchange). Dalam hal ini Abu Ubaid menyatakan, ‘Hal yang tidak diragukan lagi bahwa emas dan perak tidak layak untuk apapun, kecuali keduanya menjadi harga dari barang dan jasa. Keuntungan yang paling tinggi yang dapat diperoleh dari kedua benda ini adalah penggunannya untuk membeli sesuatu’ (pemikiran ekonomi Islam, hal 181, Al-Amwal)

Al Ghazali juga memberikan perhatian terhadap masalah yang timbul akibat pemalsuan dan penurunan berat dan kadar dinar dan dirham, seperti mencampur dinar dan dirham dengan logam kelas rendah, memotong atau mengikis muatan logamnya bukan hanya sebagai dosa perserorangan, tetapi terutama berakibat merugikan masyarakat,“Memasukan dinar dan dirham palsu dalam peredaran merupakan suatu kezaliman yang besar. Semua yang memegangnya dirugikan, peredaran satu dirham palsu lebih buruk daripada mencuri seribu dirham, karena tindakan mencuri merupakan sebuah dosa, yang langsung berakhir setelah dosa itu diperbuat, tetapi pemalsuan dinar dan dirham merupakan sesuatu yang berdampak bagi banyak orang yang menggunakannya dalam transaksi selama jangka waktu yang lama”

Al Ghazali berpendapat bahwa jika penurunan nilai uang terjadi karena kecurangan, pelakunya harus dihukum. Bagi Al Ghazali larangan praktek riba adalah mutlak, karena selain itu sebuah dosa, adalah kemungkinan terjadinya eksploitasi dalam jual beli dan ketidakadilan dalam transaksi.

Beliau juga menyatakan nilai suatu barang tidak terkait dengan berjalannya waktu, beliau berpendapat terdapat dua cara yang bunganya dapat muncul dalam bentuk yang tersembunyi. Pertama bunga dapat muncul jika ada pertukaran emas dengan emas, tepung dengan tepung dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda atau dengan waktu waktu penyerahan yang berbeda. Jika waktu penyerahannya tidak segera, dan ada permintaan untuk melebihkan komoditas, kelebihan itu disebut riba an-nasiah (bunga yang timbul akibat keterlambatan membayar atau keterlambatan penyerahan barang).

Jika jumlah komoditas yang dipertukarkan tidak sama, tetapi pertukaran terjadi secara bersamaan, kelebihan yang diberikan pertukaran tersebut disebut riba al-fadl (bunga yang timbul akibat pertukaran yang tidak setara atau seimbang). Menurut Al-Ghazali kedua bentuk tersebut haram hukumnya. Jadi agar kedua jenis riba tersebut tidak timbul, maka pertukaran harus dilakukan dengan kuantitas atau kualitas yang sama atau setara dan pertukaran dilakukan secara bersamaan (kontan). Kalau tidak, bunga yang tersembunyi mungkin timbul.

Al Ghazali selanjutnya menyatakan bahwa menetapkan bunga atas hutang piutang berarti membelokkan dinar dan dirham dari fungsi utamanya, yakni untuk mengukur kegunaan objek pertukaran. Oleh karena itu apabila jumlah uang dari piutang yang diterima lebih banyak daripada jumlah uang yang diberikan akan terjadi perubahan nilai. Perubahan ini terlarang.

Kutipan berikut ini menjelaskan pendirian Al Ghazali, ‘Jika seseorang memperdagangkan dinar dan dirham untuk mendapatkan dinar dan dirham lagi, iya menjadikan dinar dan dirham sebagai tujuannya. Hal ini berlawanan dengan fungsi dinar dan dirham. Uang tidak diciptakan untuk menghasilkan uang. Melakukan hal ini dilarang dalam Islam. Dinar dan dirham adalah alat untuk mendapat barang-barang lainnya. Dinar dan dirham tidak dimaksudkan bagi dirinya sendiri. (Dalam hubungannya dengan barang lainnya, dinar dan dirham adalah pengukur yang digunakan untuk memberikan nilai terhadap transaksi jual beli barang dan jasa) atau seperti cermin yang memantukan gambar atau warna, tetapi tidak memiliki warna dan gambar sendiri. Apabila orang diperbolehkan untuk menjual (atau mempertukarkan) uang dengan uang (untuk mendapatkan laba), transaksi seperti ini menjadi tujuannya, sehingga uang akan tertahan dan ditimbun. Menahan pemerintahan atau tukang pos adalah pelanggaran, karena mereka dicegah dari menjalankan fungsinya. Demikian pula, dengan uang”. 

Dalam Ihya Ulumuddin Jilid 4 pada Kitab Syukur, Imam al-Ghazali mengatakan: ‘Dari sekian nikmat Allah ta’ala adalah penciptaan dirham dan dinar, dengan kedua mata uang ini maka tegaklah dunia’. Karena itu mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dari pernyataan ini adalah ‘bila dirham dan dinar tidak diberlakukan maka dunia menjadi tidak tegak atau hilang keseimbangannya’. Al-Ghazali mengungkapkannya dengan tegaklah dunia bukan tegaklah bumi. Dengan demikian, jika dinar dan dirham tidak diberlakukan maka akan membuat kekacuan bagi kehidupan manusia di dunia dan akan berpengaruh terhadap kehancuran bumi.

 

Imam al-Ghazali juga  memberi  contoh jual beli yang tidak adil. Ia mengatakan: ‘…dan demikian pula orang yang membeli rumah dengan sehelai pakaian, membeli budak dengan sepatu, atau membeli tepung dengan seekor keledai, maka pertukaran barang-barang tersebut tidak berkesesuaian’. (Lihat: Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din (Jilid IV), (Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M), hal. 121)

Apa yang dinyatakan Al Ghazali di dapati juga dalam berbagai kitab-kitab klasik disebutkan bahwa nisab zakat uang hanya berlaku untuk nuqud (uang yang terbuat dari emas dan perak) yaitu sebesar 20 mitsqal dan 200 dirham serta tidak berlaku untuk fulus (uang yang tidak terbuat dari emas dan perak, seperti dari tembaga, timah, dan kertas). (Sumber: Dalam ”Kitab az-Zakah” pada naskah Al-Shirath al-Mustaqim, Syekh Nuruddin Ar-Raniri menulis Bab Zakat an-Naqd. Syekh Arsyad al-Banjari (1710M-1812M) dalam kitab Sabil al-Muhtadin juga menulis Bab Zakat an-Naqd. Muslich Shabir, Pemikiran Syekh Arsyad Al-Banjari tentang Zakat, Nuansa Aulia, Bandung, 2005, h. 42 dan 75)

Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang ulama Nusantara yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Jawi. Beliau mempersamakan uang kertas yang disebut nuth dengan fulus sehingga tidak termasuk dalam syariah zakat. Menurut Syekh Ahmad Khatib dalam karyanya Raf’u al-Iltibas ’an Hukmi al-Anwath al-Muta’amal biha baina al-Nas, uang kertas bergantung kepada jumlah angka pada kertas tersebut dan tingginya nilai kertas itu didukung oleh stempel pemerintah yang ada padanya. Karena itu menurutnya, ulama Syafi’i tidak mewajibkan pengeluaran zakat dengan uang tersebut, sebab zakat hanya diwajibkan pada emas dan perak, harta perniagaan, anggur dan kurma, tanam-tanaman yang terdiri dari makanan pokok. Dengan demikian, zakat tidak wajib diberlakukan untuk tembaga karena illat zakat adalah al-Naqdiyah (emas dan perak). (Sumber: Ahmad Hasan, Mata Uang Islami: Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islam (terjemahan Al-Auraq Al-Naqdiyah fi Al-Iqtishad Al-Islamy (Qimatuha wa Ahkamuha), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, h. 131).

Ada dua ulama Nusantara yang bernama Syekh Ahmad Khatib, yaitu Syekh Ahmad Khatib Sambas (wafat 1875) dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkakabawi (1860-1916). Dari berbagai karya keduanya, tampaknya yang dimaksud adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang memiliki murid antara lain Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Kiai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama). (Sumber: Mastuki HS dan M. Ishom El-Saha (ed.), Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren (Seri 2), (Jakarta: Diva Pustaka, 2003),  h. 63-67 & 85-91)

Fatwa Syekh Ahmad Khatib ini kemungkinan besar menjadi salah satu sumber secara turun temurun sehingga KH. Mas Mansur (tokoh Muhammadiyah) mengharamkan bank dan menurutnya termasuk darurat dalam penggunaannya. Sedangkan para tokoh dalam Kongres NU ke-21 tahun 1957 memutuskan tidak termasuk darurat dalam penggunaan bank, tetapi tetap haram. (Sumber: Buchari Alma, Ajaran Islam dalam Bisnis, op.cit., h. 121-122).

Sebelumnya, dalam ”Kitab az-Zakah” pada naskah Al-Shirath al-Mustaqim, Syekh Nuruddin Ar-Raniri menulis Bab Zakat an-Naqd. Syekh Arsyad al-Banjari (1710M-1812M) dalam kitab Sabil al-Muhtadin juga menulis Bab Zakat an-Naqd. (Sumber:Muslich Shabir, Pemikiran Syekh Arsyad Al-Banjari tentang Zakat, Nuansa Aulia, Bandung, 2005, h. 42 dan 75).

Hukum zakat adalah fardu (wajib) dan barangsiapa yang ingkar akan kefarduannya atau kadar wajibnya maka dia telah kafir, dan barangsiapa yang menahan (diri atau orang lain) daripada membayar zakat adalah harus untuk diperangi dan diambil (zakat) daripadanya secara paksa. Zakat difardukan pada tahun kedua hijrah (al- Raniri t.t.b, 54). Antara dalil kewajiban zakat yang dikemukakan al-Raniri adalah surah al-Baqarah (2) : 43, surah al-Taubah (19) : 103.

 

Zakat emas : Al-Raniri telah menjelaskan kadar timbangan emas iaitu 20 mithqal dan perak iaitu 140 mithqal mengikut timbangan Aceh. Contohnya adalah seperti timbangan emas: “Maka satu mithqal itu beratnya 36 saga (satuan yang beratnya 1/12 mayam dan digunakan untuk menyukat berat emas), dan jika kira-kira timbangan bungkal (ukuran berat emas yang besarnya 16 mayam) hingga beratnya 6 kupang, adapun 1 mithqal itu kurang 2 kupang 1/2 tahil dirham aceh, maka jumlah 20 mithqal itu jika ditimbang dengan bungkal 1 tahil 14 mayam, dan jika ditimbang dengan dirham negeri Aceh maka jadilah ia 8 tahil 7 emas, dan seemas dirham itu beratnya 5 saga yang sederhana, maka daripada yang 8 tahil 7 emas itu 3 emasnya tiga busuq zakatnya”(al-Raniri t.t.b, 65).

 

Nisab dengan menggunakan kiraan tempatan. Seperti yang dilakukan beliau dizakat: Al-Raniri juga telah memperincikan kadar nisab sesuatu zakat dalam zakat emas dan zakat pertanian. Contoh zakat emas adalah seperti yang telah disebut manakala contoh bagi zakat pertanian “Maka satu sa’ itu 51/3 ritl (Baghdadi) dan 1 ritl (kati) itu sebelas tahil sepuluh mayam bungkal dengan timbangan Aceh” (al-Raniri t.t.b, 62).

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al Khattab radhiallahuanhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). (Sumber: Pemikiran Nur al-Din al-Raniri Dalam Hukum Zakat: Analisis Kitab al-Sirat al-Mustaqim, Muhammad Ikhlas Rosele dan Mohd Anuar Ramli)

Dari kitab Nashaih al-‘Ibad yang hingga kini masih dikaji di pesantren-pesantren yang mengajarkan kitab kuning. Di dalam kitab karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (lahir 1230 H di Banten dan meninggal pada tahun 1314 H di Mekkah) yang merupakan syarah kitab al-Manbaĥatu ‘ala al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad karya Ibn Hajar al-‘Asqalani ini ditulis

“Setelah Allah menurunkan Nabi Adam as. Dari syurga ke arcapada (dunia), maka sesungguhnya segala sesuatu mendampinginya, kecuali emas dan perak. Kemudian Allah berfirman kepada benda tersebut,” Aku mendampingi engkau dengan hamba-Ku, kemudian hamba itu Aku lepas dari sampingku dan semua pihak yang semula mendampinginya, merasa susah karenanya kecuali engkau berdua. “Maka keduanya menjawab, “Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui, bahwa justru membuat kami berdua berdampingan dengannya selagi ia menaati-Mu, maka kami tidak merasa susah atas nasib selanjutnya.” Lalu Allah berfirman kepada keduanya,” Demi kitinggian-Ku dan keagungan-Ku, niscaya Aku akan membuatmu berharga, sehingga tidak dapat di peroleh segala sesuatu melainkan denganmu berdua.”

Kisah tentang uang emas dan uang perak yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam juga ditulis oleh Taqiyuddin Ahmad ibn Ali al-Maqrizi dalam Ighathat al-Ummah bi Kashf al-Ghummah. Di dalam kitab ini dinyatakan orang pertama yang mencetak uang emas (dinar) dan uang perak (dirham) adalah Nabi Adam a.s yang bersabda bahwa kehidupan ini tidak akan menyenangkan tanpa mata uang dinar dan dirham. Al-Maqrizi mengutip hal ini dari kitab Tarikh Dimashq yang ditulis Hafidh Ibn Asakir (Allouche, 1994: 55-56).

Perbedaan makna Nuqud dan Fulus hingga kini masih dipertahankan dalam kamus Arab-Indonesia. Hal ini seperti dalam Kamus Al-Munawwir karya Ahmad Warson Munawwir. Di dalamnya dijelaskan bahwa an-Naqdani: adz-dzahab wa al-fidlah (emas dan perak), “aflasa =lam yabqa lahu mal (menjadi tidak punya uang atau harta)”, fulus as-samaki (sisik ikan), al-muflis (orang yang bangkrut). (Sumber: A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Edisi Kedua, Surabaya: Pustaka Progresif, 2002. h. 1071 dan 1452).

 

Sedangkan Abu Louis Ma’luf dalam al-Munjid fi-al-lughah wa al-a’lam menulis Al-Falsu(jamaknya Fulus): qith’atun madlrubatun min an-Nuhas (potongan yang dicetak dari tembaga), ad-dinar: dlorbun min qodim an-Nuqud ad-dzahabiyah (cetakan dari logam kuno yang terbuat dari emas), ad-dirham: qith’atun min fidhatin madlrubatun lil mu’amalah (potongan dari perak yang dicetak untuk transaksi jual beli).(Sumber: Abu Louis Ma’luf, al-Munjid fi-al-lughah wa al-a’lam, (Beirut: Daar al-Masyriq, 1973), h. 593, 830, & 214)