Emas dikenai nisbab zakat maal yang dimaksud adalah emas default, tanpa embel-embel kadar atau kemurnian. Emas default artinya adalah emas murni, tanpa ada campuran perak maupun tembaga, sebab perak ada sendiri nisabnya. Untuk memperjelas landasan maklumat dari Islamic Mint Nusantara (IMN) yang dikeluarkan oleh saya pada tahun 2010, mengenai timbangan dan takaran dinar, menyatakan bahwa dinar adalah emas murni (2000-2017), begitu pula dirham adalah perak murni. Sedangkan dinar dan dirham di Indonesia telah dimulai pencetakannya oleh  Habaib (Amir) atau kami, Islamic Mint Nusantara, pada tahun 2000 yang sekarang terus bergulir sampai hari ini, kemudian kami menetapkan 21 jenis pecahan dinar dan dirham pada tahun 2010 dengan berat dan kadar yang sempurna sesuai tuntunan syariat dan nisab zakat maal

Berikut ini adalah kutipan dari pendapat para ulama maupun badan amil zakat tentang berapa kadar emas yang disebutkan dalam nishab 85 gram emas murni dari fikih kontemporer ataupun nisab 88.8 (89), 91 dan 93 gram emas murni untuk zakat maal yang merujuk kepada catatan dalam catatan fikih salaf.

1. Syaikh Shalih Al Uthaimin dalam Syarh Al Mumti’ 6/103. menyatakan bahwa nishab zakat untuk Emas adalah sebanyak 20 dinar atau 85 gram emas murni.

2. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As sa’di menyatakan: “Misalkan sesorang memiliki emas 150 gram, maka yang terkena zakat hanya 96 gram saja (yang dikali 2,5%) karena yang terkena hanya kelipatannya saja. Inilah kasih sayang Allah terhadap hambanya. ”

*Keterangan: Beliau menyebut emas yang kena zakat adalah 96 gram yaitu beliau beranggapan bahwa emas yang dimaksud adalah emas ~22 karat. Apabila emasnya murni, maka nishab zakatnya adalah sesuai dalil hadits, yaitu 85 gram.

3. Diketahui satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, sehingga nishabnya adalah 20 dinar dikali dengan 4,25 gram emas menjadi 85 gram emas (Lihat al Fiqh al Islami wa Adillatuh I/146). Dan emas yang dimaksud adalah emas 24 karat (Lihat Shahih Fiqh Sunnah Jilid 3, hal. 22)

4. Kementrian wakaf Kerajaan arab saudi menyatakan bahwa nishab zakat adalah 85 gram emas murni. Adapun emas yang tidak murni harus dikurangi sesuai dengan berat campurannya. Dalam emas 18 karat (6/24 = 1/4), umpamanya, harus dikurangi seperempat, kemudian selebihnya dizakati. Dan dalam emas 21 karat (3/24 = 1/8), umpamanya, seperdelapan harus dikurangi, kemudian selebihnya dizakati. Demikian pula cara penghitungan perak tidak murni.

5. Lembaga Manajemen Infaq (LMI) menyatakan bahwa nishab zakat emas adalah 85 gram emas murni. Dengan catatan, apabila emasnya adalah 22 karat, maka nishab emasnya berubah menjadi 96 gram.

6. LEMBAGA MANAJEMEN INFAK, ZAKAT dan SHODAQOH MASJID MANARUL ‘ILMI ITS menyatakan : nishab zakat emas murni adalah 85 gram. Untuk emas ~22 karat, nishabnya adalah 96 gram.

7. Rumah Zakat Infaq Sadaqah (ZIS) universitas gajah mada (UGM) menyatakan bahwa nisab dari zakat adalah 85 gram emas murni.

8. Majalah Suara Muhammadiyah menyatakan bahwa nisab zakat emas adalah 85 gram emas murni.

9. Bagian fatwa dalam situs Islamweb.com menyatakan: “Zakaat must be paid on gold if it reaches the Nisaab (i.e. the minimum amount liable for Zakaah), which is 20 Mithqaal (a measure which equals 85 grams of pure gold, 1 Mithqal = 4,25 grams), this means that one should pay ½ Mithqaal as Zakaat, i.e., 2.5% of the value of gold.”

10. Situs Islamcity.com menyatakan: “Zakat is obligatory when a certain amount of money, called the nisab is reached or exceeded. Zakat is not obligatory if the amount owned is less than this nisab. The nisab (or minimum amount) of gold and golden currency is 20 mithqal, this is approximately 85 grams of pure gold. One mithqal is approximately 4.25 grams. “

11. International Islamic Charitable Organisation menyatakan: “At the present time the Nisaab is estimated as the equivalent amount of 85 grams of pure gold in any other currency”

12. Organisasi muslim Profesional Tanzania menyatakan: “The Nisaab of gold is three ounces or about 85 grams of pure gold and of silver is 595 grams of pure silver. ”

13. Zakatguide.org menyatakan: “The minimum amount of gold or gold currency counted for Zakah is 20 mithqals (4.25 grams of fine gold)”

dan lain sebagainya

Sudah menjadi ijma’ di kaum Muslimin bahwa emas yang dimaksud dalam dalil nisab zakat (20 dinar emas) adalah emas murni (9999). Dengan demikian seharusnya dinar yang dimaksud dalam syariat islam adalah dinar yang terbuat dari emas murni, bukan dinar tidak murni (campuran antara emas dan perak atau logam lain).

Kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan singkat ini adalah:

1. Nisab emas adalah sebesar 20 mitsqal atau dinar emas. 20 mitsqal atau dinar emas setara dengan 85 gram atau 88.8 (89) grm, 91 dan 93 emas murni (dzahab khalis).

2. Emas yang dimaksud adalah emas default, tanpa ada campuran apapun (emas murni). Hal ini sudah menjadi ijma’ ulama dan kaum muslimin

3. Karena nisab emas satuannya adalah dinar emas, maka dinar emas yang dimaksud disini adalah dinar emas murni.

4. Apabila emas yang dimaksud dalam dalil nishab zakat adalah emas yang tidak murni, niscaya akan disebutkan kadarnya. Misalnya “20 dinar emas dengan 9 bagian emas dari 10 bagian”. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian, dalilnya hanya menyebutkan emas saja tanpa menyebutkan kadarnya. Sehingga sudah qathi bahwa nishab zakat dinar emas yang dimaksud dalam dalil adalah dinar emas murni.

Sedangkan di Indonesia kebebasan dalam menjalankan syariat Islam dijamin oleh Undang-undang dan memiliki dasar hukum yang sangat kuat, dalam hal penggunaan emas dan perak secara khusus telah masuk ke dalam Undang-Undang yang mengatur penggunaan emas dan perak atau dinar dan dirham dalam UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan zakat.

Dalam Pasal 1 ayat 2 UU No.23/2011 disebutkan:

2.   Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.

Pasal 4 ayat 2 dan ayat 4

(2)  Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.  emas, perak, dan logam mulia lainnya.

(4) Syarat dan tata cara penghitungan zakat mal dan zakat fitrah dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam.

Dengan ini secara jelas bahwa Undang-Undang memberikan dasar hukum yang kuat bagi pengedaran dan penggunaan kembali koin emas dan perak atau dinar dan dirham, dengan hadirnya kedua dinar dan dirham maka UU Pengelolaan Zakat bisa dijalankan sebagaimana mestinya.

Sesuai dengan Pasal 4 ayat 4 yang dimaksud tentulah tentang nishab dan haul yang sesuai syariat Islam, dimana tidak ada perbedaan dalam semua Imam Madhab, seperti yang dikatakan, Imam Malik ra. dalam Al Muwattha:

“Sunnah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya di antara kita dalah bahwa zakat diwajibkan pada emas senilai 20 Dinar, sebagaimana (perak) senilai 200 Dirham”

dan Imam Syafi’i dalam kitabnya, Ar Risalah (112/527) menyatakan:

“Rasulullah telah mewajibkan pembayaran zakat atas kepemilikan perak dan kaum Muslimin setelah beliau mewajibkan zakat atas kepemilikan emas. Dasar mereka mewajibkan zakat atas kepemilikan emas adalah hadist Nabi Muhammad yang belum sampai kepada kami (62) atau qiyas bahwa emas dan perak adalah mata uang yang digunakan manusia (63). Manusia menyimpan keduanya (uang emas dan perak) dan dianggap memimilik nilai terhadap apa yang mereka perjual-belikan deiberbagai daerah, baik sebelum Islam dan sesudahnya”.

Adapun Imam Abu Yusuf, seorang fakih yang juga murid Imam Abu Hanifah, menulis surat kepada Sultan Harun Al Rasyid (170H/786M – 193H/809M), mengatakan keharaman uang selain emas dan perak sebagai alat pembayaran, beliau menulis:

“Haram hukumnya bagi seorang Khalifah untuk mengambil uang selain emas dan perak, yakni koin yang disebut Sutuqa, dari pemilik tanah sebagai alat pembayaran kharaj dan ushr mereka. Sebab walaupun koin-koin itu merupakan koin resmi dan semua orang menerimanya, koin itu tidak terbuat dari emas melainkan tembaga. Haram hukumnya menerima uang yang bukan emas dan perak sebagai zakat atau kharaj

Ketetapan hukum atas nishab zakat dari Rasululllah shallallahu alaihi wassalam menjadi pijakan semua Ulama Madhab yang menyatakan zakat maal dan harta perniagaan harus dibayar dengan dengan nuqd, dinar dan dirham. Diketahui cari catatan sejarah bahwa nishab zakat maal 20 mitsqal (dinar) terdahulu adalah 88.8 (89), 91, 93 dan 96 gram emas murni. Sedangkan nisab 85 gram emas murni baru datang kemudian diperkenalkan oleh Ulama fikih kontemporer.

Berat 1 mitsqal yang merujuk kepada masa awal Islam, telah distandarkan oleh saya sebagai Amir yang memulai dan telah mencetak pertamakali dinar dan dirham di Indonesia pada tahun 2000, bahwa berat kadar yang sempurna untuk standar 1 Mitsqal (Dinar) adalah 4.44 gram emas murni (9999), sedangkan berat  1 Dirham adalah 3.11 gram perak murni (9999), yang mengikuti satuan perbandingan dari Wazan Sab’ah yang dikukuhkan kembali oleh Umar Al Khattab ra.

(Sumber: Berbagai sumber, Emas 24 Karat, Buku Catatan dan Petunjuk Dinar dan Dirham 2017, Sidi Abdullah)