Dalam buku OSMANLI ALTINARI – KOIN EMAS KESULTANAN OTTOMAN dapat dilihat semua koin emas dari setiap Sultan Ottoman, dijelaskan mengenai berat, kadar dan diameter dinar. Koin emas pertama Ottoman mempunyai berat, kadar dan diameter yang sama dengan koin emas Venesia, yang beredar di pasar wilaya Timur, kemurniaan koin tersebut 99.3, persen, berat 3.508 gram dengan dia meter 20 mm.

Lalu perbaikan kedua dilakukan oleh Sultan Mustafa II (1695-1703) dan Sultan Ahmet III (1703-1730) dengan menyempurnakan kemurnian koin emas menjadi 24 karat, yang sebelumnya sempat terjadi degradasi kadar koin di Mesir. Emas dalam bahasa Turki disebut Altin (Altyn), salah satu pecahan koin emas Ottoman disebut, Sultani. Dari sini diketahui tujuan pertama dari mencetak koin emas adalah berbahan emas murni

Degradasi kemurnian koin terjadi setelah masa itu mulai dari 95.6, 87.3, 83.0, 80.0 dan 74.8 persen. Sampai akhirnya dinar emas hilang dari peredaran sejak Kesultanan Ottoman dihapus secara paksa pada tahun 1924 oleh pengkhianat Islam bernama Kemal.

Hari ini , 793 tahun yang lalu wafatnya beliau Pendiri dan Sultan Pertama Kekhalifahan Daulah Utsmani yaitu Sultan ‘Utsman Ghazi di Kota Bursa pada umur 68 tahun. Osman (‘Utsman) bin Ertugrul menggunakan gelar yang menggabungkan pemimpin dan panglima perang yaitu Sultan dan Ghazi. Penggunaan gelar inilah jadi kultur penggunaan gelar di kesultanan di Nusantara , dan yang paling mencolok pendiri Kesultanan Mataram di Kotagedhe (Bantul, Yogyakarta) dengan Gelar Panembahan Senopati bermakna Sultan Ghazi

Karena Kesultanan di Nusantara dan Jawa memiliki Geocentral kepada Daulah ‘Utsmani (Ottoman-centris) setelah Islam masuk, yang dimana zaman pra-Islam kerajaannya memiliki Geocentral India