Penggunaan kertas fiat yang disebut sebagi uang hari ini dalam dunia Islam secara nyata telah mempengaruhi jalan yang kita ambil dalam penarikan dan pembagian zakat. Pada kenyataannya kita harus bergantung kepada para ‘ulama yang memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip ijtihad yang terkemuka untuk dapat mengadaptasi keadaan hari ini. Akan tetapi tindakan-tindakan penyesuaian terhadap keadaan ini tidak boleh merubah ataupun mengganti prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Dien Islam maupun dalam amalan sunnahnya, dimana keduanya menjadi ukuran yang membedakan dari praktek-praktek non Muslim.

Jadi, jika zakat ternak dan zakat hasil pertanian dapat dibayarkan langsung dengan menggunakan hasil dari kedua hal tersebut, maka zakat maal emas dan perak hanya dapat dihitung dan dibayarkan dengan menggunakan dinar atau dirham. Seseorang dapat memilih agar kekayaannya dihitung berdasarkan dinar, yaitu senilai dengan 20 mitsqal (dinar) atau setara 88.8 gram emas murni (pendapat tengah dan hati-hati berada dalam rentang nishab zakat 89-93 gram, sedangkan pendapat rasional dari fikih kontemporer mengambil nishab berdasarkan yang terkecil 85 gram), atau dengan memilih agar kekayaannya dihitung berdasarkan dirham, yaitu senilai dengan 200 dirham atau setara dengan 622 gram perak murni.

Penetapan 1 mitsqal 4.44 gram emas murni adalah untuk mengembalikan nisab zakat maal emas sebesar 20 mitsqal atau setara 88.8 (89) gram emas murni (9999) dan untuk muamalah Islam secara luas. Sumber rujukan nisab (88.8) 89 gram lihat Al Isyadat-us Saniyah fi al ahkam il Fiqiyah, bahagian ke-2 halaman 157, Sidi Abdullah, Islamic Mint Nusantara 1999-2019.

Dengan perhitungan dalam kertas fiat hari ini (lihat nilai tukar dinar per tanggal 05/05/2013 IDR 2.151.000), maka 20 dinar adalah senilai uang kertas Rp 43.020.000 sedangkan untuk 200 dirham adalah senilai  kertas fiat Rp 7.435.000 (lihat nilai tukar dirham per tanggal 05/05/2013 IDR 37.179).

Untuk menjalankan kembali penarikan Zakat mal sebagaimana mestinya perlu dilakukan beberapa hal, yaitu antara lain:

Pertama, yang perlu diperhatikan adalah jumlah zakat yang dibayarkan harus mengikuti nilai nisab yang dipilih (dinar dan dirham), seperti yang telah dijelaskan di atas. Kekayaan, dalam zakat, tidak terbatas hanya kepada uang, termasuk pula barang milik pribadi ataupun barang niaga. Dengan mengetahui ini maka keberadaan dinar dan dirham secara umum menjadi suatu hal yang penting agar kita dapat menggunakannya sebagai standar bagi perhitungan barang atau harta lainnya.

Kedua, dirham dan dinar murni harus segera dimiliki oleh seluruh Muslim guna memungkinkan mereka membayar zakat sebagaimana mestinya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallalahu alaihi wassalam dan Sahabat ra.

Ketiga, proses penarikan, penyimpanan dan pembagian zakat bukan merupakan bentuk dari kewenangan pribadi seperti yang terjadi pada sedekah. Penarikan dan pembagian zakat merupakan bagian dari hak dan tugas Sultan atau Khalifah atau orang yang ditunjuk oleh Sultan dalam suatu wilayah tertentu.

Maka oleh karena itu menjadi hal yang sangat penting untuk mendorong Sultan melaksanakan kembali hal tersebut di atas. Jika tidak, maka seseorang perlu diberikan tugas untuk itu atau seseorang perlu mengambil tugas tersebut. Para pihak yang berhak menerima zakat tercantum dengan jelas dalam aturan Islam. Maka, menjadi hal yang penting bagi para penyebar zakat untuk mengetahui secara jelas siapa saja yang berhak menerima zakat dan siapa saja yang termasuk dalam penerima zakat ini di daerahnya secara lokal.

Pada proses awal ini di mulai tahun 2000 memang dinar dan dirham belum langsung dapat digunakan oleh penerima zakat, tapi sekarang setelah dinar dan dirham sekitar dua puluh tahun di Indonesia, sudah banyak yang sadar tahu akan hal ini, maka setiap komunitas melalui model  Pasar Halal bisa menggunakannya dan menjamin penukaran kembali dinar dan dirham tersebut bagi anggota atau masyarakat yang menerimanya sebagai zakat jika hal ini dapat mempermudah mereka untuk memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi pada perjalanannya, hal ini seiring dengan waktu menjadi lazimnya bagi masyarakat atau pedagang atau pasar halal yang menggunakan dinar dan dirham sebagai uang dalam perniagaan secara luas. Insyaallah.